NEVER UNDERESTIMATE YOURSELF
DAN KARENA MENURUTKU TIDAK ADA USAHA YANG SIA-SIA
MAKA MARI BERCERITA
___
Let's dive into the world of PROMIL - Part 3!
___
Oleh Bubu Eyza
Hallo semuanya, aku mau cerita gimana promil aku ke dokter ya.
Jadi total aku hanya ke 2 dokter. Semuanya dokter wanita. Yang pertama di Siloam Bekasi dan yang kedua di Hermina Grand Wisata.
![]() |
Photo by freestocks on Unsplash |
Promil ke Dokter yang Pertama di Siloam lebih lama. Tapi menurutku setelah ke dokter yang kedua, ternyata apa yg kulakuin di dokter yang pertama itu belum puas. Aku ke dokter yang pertama ini setelah 1 tahun pernikahan. Kenapa nunggu 1 tahun? Karena jika sejauh ini menstruasi ga ada masalah dan melihat riwayat keluarga ga ada masalah, insya Allah akan cepet dapat momongannya.
Di dokter ini aku di USG secara transvaginal. Rasanya aneh banget haha. Tapi lama-lama karena ada 3 bulanan kali ya aku ke dokter ini, jadi biasa aja USG nya.
Pas hamil trisemester awal juga bakalan di USG Transvaginal, jadinya karena udah terbiasa saat promil ini jadinya aman ga dagdigdug.
Di dokter ini aku lebih dikontrol untuk perubahan life style selama 1 bulan dan diberikan rekomendasi waktu melakukan hubungan berdasarkan masa ovulasi.
Di bulan kedua diberikan obat sejenis obat diabetes (ini off label penggunaan obat), untuk ngebantu menurunkan berat badan. Sebenernya BB ku itu belum Overweight bgt. Tapi dokter khawatirnya dari berat badan. Jadi perjuangan nurunin berat badan nih.
Selama bulan ini aku nyoba metode Intermitten Fasting untuk nurunin berat badan. Tapi mungkin dasarnya dibarengin sama stress, jadi turunnya ga optimal.
Di bulan ketiga pengecekan masih sama, tapi aku dikasi saran untuk minum Ovacare dan Oligocare. Dipantau selama 2 bulanan klo ga salah. Tapi masih tetep aja belum garis 2 nih wkwk.
Sampe akhirnya kita capek pulang kerja harus promil kesini padahal jauh bgt RS nya dari rumah.
Promil yang kedua ke Dokter di Hermina Grand Wisata. Ini aku start sebelum 2 tahun pernikahan. Disini baru mulai semangat lagi buat nyoba promil. So far entah kenapa paling puas sama penjelasan dokter ini.
Secara tahapan aku lupa, tapi kurang lebih program dokternya dan penjelasan dokternya kayak dibawah ini :
___
Berikut adalah langkah-langkah yang umumnya terlibat dalam proses program hamil serta hal-hal yang perlu diperhatikan:
Tahapan Program Hamil:
Konsultasi Awal
- Riwayat Kesehatan: Diskusi mengenai riwayat kesehatan, siklus menstruasi, dan gaya hidup.
- Pemeriksaan Fisik: Pemeriksaan kondisi tubuh secara keseluruhan, termasuk pemeriksaan organ reproduksi.
- Pemeriksaan Hormon: Tes darah untuk mengecek kadar hormon yang terkait dengan kesuburan, seperti hormon FSH, LH, progesteron, dan estrogen.
Pemeriksaan Kesuburan
- Tes Ovulasi: Menentukan apakah ovulasi terjadi secara teratur, biasanya melalui tes darah atau USG.
- Analisis Sperma (untuk pasangan pria): Mengecek kualitas dan kuantitas sperma.
- HSG (Hysterosalpingography): Pemeriksaan untuk memastikan bahwa tuba falopi tidak tersumbat.
- USG Transvaginal: Memeriksa kesehatan rahim dan ovarium, termasuk adanya kista atau miom.
Nutrisi dan Gaya Hidup
- Nutrisi: Konsumsi makanan yang sehat, kaya vitamin dan mineral, terutama asam folat, yang penting untuk perkembangan awal janin.
- Berat Badan Ideal: Menjaga indeks massa tubuh (BMI) dalam rentang normal, karena berat badan berlebih atau terlalu rendah dapat mempengaruhi kesuburan.
- Hindari Stres Berlebih: Stres kronis bisa berdampak negatif pada ovulasi dan kesehatan reproduksi.
- Olahraga Teratur: Aktivitas fisik yang teratur dapat meningkatkan peluang hamil, tetapi hindari olahraga berat yang berlebihan.
Pengaturan Waktu Berhubungan Seksual
- Mengetahui Masa Subur: Menggunakan metode kalender atau alat pengukur ovulasi untuk mengetahui kapan masa subur terjadi.
- Frekuensi Berhubungan: Disarankan berhubungan seksual lebih sering di sekitar masa ovulasi, yaitu pada hari ke-11 hingga ke-16 dari siklus menstruasi (jika siklusnya 28 hari).
Pengobatan Kesuburan (Jika Diperlukan)
- Obat Stimulasi Ovulasi: Clomiphene citrate (Clomid) atau letrozole untuk merangsang ovulasi pada wanita yang tidak mengalami ovulasi secara teratur.
- Injeksi Hormon Gonadotropin: Diberikan untuk merangsang ovulasi jika pengobatan oral tidak berhasil.
Teknologi Reproduksi Berbantuan (ART)
- Inseminasi Intrauterin (IUI): Memasukkan sperma yang telah diproses langsung ke dalam rahim saat ovulasi.
- Fertilisasi In Vitro (IVF): Pengambilan sel telur dari ovarium, kemudian dibuahi di laboratorium, dan embrio yang terbentuk ditanam kembali ke rahim.
Hal-hal yang Perlu Diperhatikan:
- Usia: Kualitas dan kuantitas sel telur menurun seiring bertambahnya usia, terutama setelah usia 35 tahun.
- Riwayat Penyakit: Adanya riwayat penyakit tertentu seperti endometriosis, PCOS, atau infeksi menular seksual yang dapat mempengaruhi kesuburan.
- Gaya Hidup: Hindari merokok, alkohol, dan konsumsi kafein berlebihan, karena dapat menurunkan kesuburan.
- Kondisi Psikologis: Kecemasan dan stres dapat mempengaruhi hasil program hamil, sehingga penting untuk menjaga keseimbangan mental.
- Dukungan Pasangan: Pasangan juga harus siap secara fisik dan mental, karena program hamil memerlukan kerjasama yang baik antara suami dan istri.
Dengan langkah-langkah ini, harapannya pasangan bisa mendapatkan hasil yang optimal dalam program hamil. Program ini bisa disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing pasangan.
___
Biasanya, dokter kandungan akan memulai dengan langkah-langkah yang lebih sederhana sebelum beralih ke prosedur yang lebih kompleks, seperti IVF (In Vitro Fertilization). Berikut adalah tahapan yang lebih rinci dari program hamil:
Tahap 1: Konsultasi dan Pemeriksaan Awal
- Riwayat Kesehatan dan Siklus Menstruasi: Diskusi dengan dokter untuk memahami masalah kesuburan yang mungkin terjadi, termasuk riwayat menstruasi, penyakit, dan gaya hidup.
- Pemeriksaan Fisik: Pemeriksaan fisik menyeluruh untuk menilai kondisi organ reproduksi.
- Tes Hormon: Tes darah dilakukan untuk memeriksa keseimbangan hormon yang mempengaruhi ovulasi.
- USG Transvaginal: Memeriksa struktur organ reproduksi untuk mendeteksi kelainan pada rahim atau ovarium.
- Pemeriksaan Kesuburan Pria (Analisis Sperma): Mengecek kualitas sperma, termasuk jumlah, pergerakan, dan bentuknya.
Keputusan dokter: Jika hasil pemeriksaan menunjukkan masalah yang tidak terlalu serius, program hamil bisa dilanjutkan ke tahap 2.
Tahap 2: Pengaturan Gaya Hidup dan Pemantauan Ovulasi
- Pola Makan Sehat dan Suplemen: Dokter akan merekomendasikan pola makan yang seimbang dengan asam folat dan vitamin D, yang penting untuk kesuburan.
- Pemantauan Masa Subur: Menggunakan metode kalender atau alat pengukur ovulasi untuk mengetahui kapan masa subur terjadi.
- Menyesuaikan Frekuensi Berhubungan Seksual: Dokter akan merekomendasikan pasangan untuk berhubungan seksual lebih sering di masa subur, biasanya 2-3 kali seminggu.
Keputusan dokter: Jika pasangan tidak hamil dalam waktu 3-6 bulan, maka dilanjutkan ke tahap 3.
Tahap 3: Penggunaan Obat Stimulasi Ovulasi
- Clomiphene Citrate (Clomid) atau Letrozole: Obat ini sering diberikan untuk wanita yang tidak mengalami ovulasi teratur. Obat ini merangsang ovarium untuk melepaskan sel telur.
- Gonadotropin (Injeksi Hormon): Jika Clomiphene tidak berhasil, injeksi gonadotropin (seperti FSH atau LH) dapat digunakan untuk merangsang pertumbuhan sel telur di ovarium.
- Pemantauan Folikel dengan USG: Selama penggunaan obat ini, dokter akan memantau perkembangan folikel (kantung yang berisi sel telur) dengan USG untuk menentukan waktu terbaik untuk berhubungan seksual atau melakukan prosedur inseminasi.
Keputusan dokter: Jika setelah 3-6 siklus dengan obat ini masih belum hamil, atau ada masalah dengan kualitas sperma atau tuba falopi, maka dilanjutkan ke tahap 4.
Tahap 4: Inseminasi Intrauterin (IUI)
- IUI (Intrauterine Insemination): Pada tahap ini, sperma yang telah diproses dimasukkan langsung ke dalam rahim pada waktu ovulasi, untuk meningkatkan peluang terjadinya pembuahan. IUI dapat dilakukan setelah pengobatan stimulasi ovulasi.
Keputusan dokter: Jika IUI tidak berhasil setelah 3-6 siklus, atau ada masalah yang lebih serius seperti sumbatan pada tuba falopi atau kualitas sperma yang buruk, dokter akan menyarankan IVF.
Tahap 5: In Vitro Fertilization (IVF)
- Stimulasi Ovarium: Wanita akan diberikan suntikan hormon untuk merangsang ovarium menghasilkan banyak sel telur dalam satu siklus.
- Pengambilan Sel Telur (Ovum Pick-Up): Sel telur yang sudah matang akan diambil dari ovarium dengan prosedur pembedahan minimal (biasanya dengan bantuan USG).
- Fertilisasi di Laboratorium: Sel telur yang telah diambil akan dibuahi oleh sperma pasangan (atau donor) di laboratorium.
- Kultur Embrio: Embrio yang terbentuk akan dikembangkan selama beberapa hari di laboratorium, dan kualitasnya akan dievaluasi.
- Transfer Embrio: Embrio yang terbaik akan ditransfer ke rahim. Jika embrio berhasil menempel di dinding rahim, maka kehamilan dapat terjadi.
Keputusan dokter: Jika embrio tidak menempel setelah beberapa kali IVF, maka dokter mungkin akan merekomendasikan langkah lebih lanjut, seperti donasi telur atau embrio, atau adopsi.
Tahap 6: Pemantauan Kehamilan
Jika berhasil hamil, dokter akan memantau kehamilan secara ketat terutama pada trimester pertama untuk memastikan perkembangan janin berlangsung normal.
Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Selama Program:
- Kesabaran dan Kedisiplinan: Setiap tahapan membutuhkan waktu dan kedisiplinan dalam menjalani pengobatan dan pemeriksaan.
- Konsistensi Pemantauan Gaya Hidup: Selama program, penting untuk tetap menjaga pola makan sehat, berolahraga ringan, dan menghindari kebiasaan buruk seperti merokok atau konsumsi alkohol.
- Kondisi Emosional: Program ini bisa memberikan tekanan psikologis, sehingga penting untuk menjaga kesehatan mental. Dukungan dari pasangan dan lingkungan sangat berpengaruh.
- Konsultasi Rutin: Setiap tahap memerlukan evaluasi dari dokter untuk menyesuaikan tindakan selanjutnya.
Program hamil ini dirancang secara bertahap, dimulai dari langkah-langkah sederhana seperti obat dan perubahan gaya hidup, hingga langkah yang lebih intensif seperti IVF, tergantung pada respons tubuh dan hasil pemeriksaan yang diperoleh.
___
Nah itu kurang lebih penjelasan dokter dan riset tahapan yang perlu dilakuin pas promil sama dokter. Inget ini hanya gambaran aja yah. Biar pas ke dokter kita ga bengong-bengong amat mau diapain.
Aku lupa aku ngelakuin HSG pas ke dokter ini atau ke dokter yang pertama. Tapi seingetku dokter yang kedua ini lah yang lebih lengkap. Ah kayaknya aku HSG secara mandiri deh, biar siap-siap klo promil ke dokter ini udah ready semuanya.
Tapi ternyata, Setelah konsultasi sama dokter ini masih ada step yang belum, yaitu cek hormon. Cek hormon ini ada waktunya juga. Harus ke dokter dlu ya. Jadi setelah berapa hari Haid disarankan cek hormon ini.
Nah kebetulan pas mau cek hormon ini, aku nunggu2 banget kapan haid/menstruasi. Kok ga haid2. Akhirnya memberanikan diri untuk tespack. Alhamdulillah yang aku tunggu-tunggu dan bisa dibilang tanpa promil malah garis dua man teman.
___
Mungkin ini sih perjalanan yang harus kita jalanin. Harus nyobain dlu yang namanya promil. Biar bisa berbagi dan belajar terkait promil ini.
Nanti aku tetep akan sharing-sharing ilmu-ilmu yang aku cari terkait promil pokoknya.
Next Part klik disini yaa
Rangkuman Link Kebutuhan Promil disini ya.
___
No comments:
Post a Comment
Tinggalkan Jejak Bacaan Anda disini!